
Sang Pelaut Tangguh Pahlawan Kemerdekaan Indonesia
Di tengah gemuruh perjuangan kemerdekaan Indonesia, sosok John Lie menjadi bukti bahwa cinta tanah air tak mengenal suku, ras, atau agama. Lahir dari keluarga Tionghoa di Manado, Sulawesi Utara, pada 9 Maret 1911, John Lie adalah simbol keberanian dan pengabdian tanpa pamrih seorang pelaut tangguh yang berjuang lewat jalur laut demi kemerdekaan negeri ini.
John Lie Siauw Po begitu nama lengkapnya lahir dari keluarga pedagang. Ia tumbuh sebagai anak bangsa yang cinta Indonesia meski identitas Tionghoanya kerap menjadi sorotan. Jiwa pelautnya terbentuk sejak muda. Setelah sempat menjadi pegawai pelabuhan dan pelaut komersial, John Lie kemudian memilih jalan berbeda: menjadi bagian dari perjuangan kemerdekaan.
Setelah proklamasi 1945, Belanda masih berusaha menjajah kembali Indonesia. John Lie bergabung dengan Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI). Tapi tugasnya tak biasa. Ia menjadi bagian dari operasi rahasia penyelundupan senjata dan logistik dari Singapura, Malaysia, dan Burma ke wilayah Indonesia, melewati blokade laut Belanda.
Dengan kapal kecil dan semangat besar, John Lie kerap lolos dari kejaran kapal Belanda yang jauh lebih besar dan bersenjata lengkap. Ia membawa emas dan hasil bumi ke luar negeri untuk ditukar dengan senjata, lalu kembali dengan penuh risiko demi memperkuat pasukan republik. Keahliannya dalam navigasi dan kelicinan manuvernya membuat Belanda kewalahan.
Salah satu kisah terkenalnya adalah ketika ia berhasil menyelundupkan senjata dari luar negeri ke Sumatera Barat, melewati kawalan ketat kapal Belanda. Berkat keberaniannya, perjuangan fisik di banyak wilayah bisa terus berlanjut dengan dukungan senjata dan logistik.
Karena aktivitas rahasianya, Belanda mencap John Lie sebagai “penjahat laut” dan menawarkan hadiah besar untuk penangkapannya. Tapi ia tak pernah tertangkap. Ia justru terus menjalankan misinya, berpindah-pindah pelabuhan, kadang menggunakan nama samaran. Dalam diam, ia menjadi penyambung nyawa perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Setelah kemerdekaan diakui, John Lie melanjutkan pengabdiannya di Angkatan Laut hingga pensiun dengan pangkat Laksamana Muda. Sayangnya, kiprahnya lama tenggelam dalam sejarah. Baru pada 2009, pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepadanya sebuah pengakuan atas jasa besarnya bagi negara.
John Lie meninggal pada tahun 1988 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Kini, namanya diabadikan sebagai nama kapal perang Indonesia: KRI John Lie-358, sebagai bentuk penghormatan atas perjuangannya melawan penjajah melalui jalur laut.
Kisah John Lie mengajarkan kita bahwa perjuangan bisa datang dari mana saja. Ia bukan seorang politikus, bukan jenderal perang yang memimpin pasukan besar. Ia hanya seorang pelaut tapi pelaut dengan nyali sekeras baja dan cinta tanah air yang tak tergoyahkan. Di tengah gelombang sejarah Indonesia, John Lie adalah mercusuar yang tak pernah padam.
Menebar kebaikan
Bakti Pemuda Foundation adalah lembaga filantropi yang mendukung pembangunan berkelanjutan bidang sosial dan pendidikan masyarakat pelosok dan pinggiran kota.
Kami memulai perjalanan di dunia filantropi pada tahun 2002 dengan program beasiswa pendidikan untuk masyarakat prasejahtera di daerah-daerah dengan akses terbatas di daerah Jawa Barat. Pengelolaannya pun masih dengan metode konvensional.
Nilai organisasi yang selalu kami pegang adalah Profesional, Amanah, Mandiri, Inspiratif dan Peduli
Kantor pusat : Komp. Perkantoran Ciputat Indah Permai Blok C2, Jl. Ir H Juanda No. 50 Pisangan, Ciputat Timur Tangsel 15419
Kantor Cabang : Ruko Istana Dinoyo Kav D4, Jalan Mayjen Haryono 1A Kel. Dinoyo Kec. Lowokwaru Kota Malang ( 65144 )
Telp : 021-227-951-20
WA / SMS Center : 0813-1901-9065